Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 07 Agustus 2011

Penggunaan Antibiotik

Paparan antibiotik sebelum lahir atau pada anak usia dini sedikit dapat meningkatkan risiko untuk asma anak kemudian, hal ini menurut hasil peninjauan secara sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics tahun 2011 ini. "Peningkatan prevalensi asma anak telah dikaitkan dengan rendahnya paparan mikroba seperti yang dijelaskan oleh hipotesis kebersihan (hygiene hypothesis)," tulis William Murk MPH.dan rekan, dari Center for Perinatal, Pediatric dan Epidemiologi Lingkungan, Yale University School of Public Health di New Haven, Connecticut ". Bukti adanya hubungan yang benar antara penggunaan antibiotik dan asma anak lebih lanjut akan mendukung pengurangan resep antibiotik yang tidak perlu selama kehamilan dan pada awal kehidupan dan menambahkan dukungan untuk hipotesis kebersihan (hygiene hypothesis)."
Dari 20 studi klinis tentang paparan antibiotik dalam tahun pertama kehidupan, peningkatan risiko untuk asma di usia 3 sampai 18 tahun adalah sebesar 1,52 lebih tinggi. Perkiraan peningkatan risiko terstinggi terlihat dari 8 studi klinis 8 studi retrospektif, yang menunjukkan terjadinya peningkatan asma sebesar 2,04 klai pada pengguna antibiotik dibandingkan dengan data dari 12 studi prospektif yang menunjukkan hanya terjadi peningkatan risiko sebesar 1,25. Sedangkan untuk risiko infeksi saluran nafas, dari  5 penelitian yang disesuaikan, perkiraan risiko lebih lemah tapi tetap bermakna yaitu sebesar 1,16. Temuan ini juga berlaku dari 3 studi yang tampak saat onset asma di kemudian hari atau setelah 2 tahun yaitu sebesar 1,16.
Dari studi-studi ini terlihat bahwa penggunaan antibiotik pada awal kehidupan anak-anak akan meingkatkan risiko terjadinya asthma pada kemudian hari kehidupan sang anak. Walaupun kesimpulan ini bersitaf tentatif,dikarenakan adanya bukti bias protopatik yang kurang terjamin pada studi ini, oleh karenanya disarankan diperlukan studi dalam skala yang lebih luas untuk menentukan kesimpulan secara definitif.


Sebagian besar tindakan pada kasus obstetri menyebabkan timbulnya kontaminasi bakteri. Tindakan-tindakan obstetri diklasifikasikan sebagai clean-contaminated bahkan ketika pasien tidak memiliki infeksi aktif sebelum dilakukan operasi. Cesarean delivery (proses persalinan dengan pembedahan/operasi) dikatakan prosedur yang clean-contaminated bila prosedurnya dijadwalkan tanpa ada ruptur membran amnion dan/atau tanda-tanda persalinan, serta dikatakan prosedur yang contaminated bila prosedurnya dilakukan secara emergensi dengan adanya tanda-tanda persalinan dan/atau ruptur membran amnion.

Beberapa studi telah menunjukkan efek yang bermanfaat dari profilaksis antimikroba perioperatif dalam mencegah infeksi setelah cesarean delivery. Profilaksis dengan dosis tunggal merupakan regimen yang sangat baik dibandingkan regimen selama beberapa hari, tidak tergantung pada segera atau tidaknya prosedur dilakukan.

Sebagian besar infeksi pada luka operasi setelah cesarean delivery adalah infeksi pada jaringan lunak yang disebabkan organisme dari traktus genitalis bagian bawah seperti bakteri gram negatif dan anaerob.

Kombinasi ampicillin dan sulbactam memiliki spektrum antibakteri yang lebih luas dibandingkan sefalosporin generasi pertama dan kedua. Pada studi dalam bidang obstetri, ampicillin/sulbactam lebih sering diberikan daripada ampicillin untuk mencegah terjadinya infeksi setelah cesarean pada wanita dengan ruptur membran amnion.

Studi dilakukan oleh Ziogos dan rekan-rekan pada 176 pasien, 85 pasien mendapat cefuroxime 1,5 g dan 91 pasien mendapat ampicillin/sulbactam 3 g. Pada kedua kelompok, antibiotika diberikan secara intravena setelah pemotongan tali pusat.

Infeksi postoperatif dijumpai pada 5 dari 86 pasien (5,9%) yang mendapat cefuroxime dan 8 dari 91 pasien (8,8%) yang mendapat ampicillin/sulbactam (p = 0,6). Enam atau lebih pemeriksaan vaginal sebelum dilakukan operasi (p = 0,004), ruptur membran amnion lebih dari 6 jam (p = 0,08), dan kehilangan darah lebih dari 500 mL (p = 0,018) terkait dengan infeksi pada luka operasi postoperatif. Berdasarkan regresi logistik, enam atau lebih pemeriksaan vaginal merupakan faktor risiko paling bermakna untuk terjadinya infeksi pada luka operasi postoperatif (OR 6,8; 95% CI:1,4-33,4; p = 0,019). Follow up prenatal secara teratur berkaitan dengan efek protektif (OR 0,04; 95% CI: 0,005-0,36; p = 0,004). Tidak dijumpai efek samping pada kedua kelompok.

Kesimpulan dari studi ini adalah ampicillin/sulbactam sama aman dan efektif dengan cefuroxime untuk pencegahan infeksi pada cesarean delivery.

Secara spesifik, kasus infeksi postoperatif yang dijumpai pada kelompok ampicillin/sulbactam sebanyak 6 kasus dan pada kelompok cefuroxime sebanyak 4 kasus (p = 0,7), yang mana 5 kasusnya berupa infeksi superficial pada luka operasi, 4 kasusnya berupa endometritis, dan 1 kasusnya berupa infeksi intraabdominal.

Setelah kultur bakteri penyebab infeksi pada luka operasi postoperatif, bakteri yang terkait antara lain Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Proteus mirabilis, Enterobacter aerogenes, Enterococcus faecalis. Sementara penyebab kasus endometritis terkait dengan bakteri gram negatif aerob (E. coli, Citrobacter spp, dan Enterobacter cloacae).

Studi lain mengkonfirmasi peran profilaksis antimikroba yang bermanfaat pada wanita yang akan menjalani cesarean delivery yang terjadwal ataupun emergensi terlepas dari ada atau tidaknya faktor risiko. Operasi dikatakan memiliki risiko 5-20 kali untuk terjadinya infeksi dibandingkan persalinan normal. Bakteri patogen dapat mengkontaminasi ruang endometrial selama cesarean delivery. Endometritis merupakan komplikasi infeksi yang paling sering dijumpai.

Sebuah metaanalisis yang dilakukan Constantine dan rekan-rekan pada 749 wanita dengan cesarean delivery menyimpulkan bahwa pemberian antibiotika preoperatif secara bermakna menurunkan insiden terjadinya endometritis postpartum dan total morbiditas infeksi tanpa mempengaruhi bayi yang dilahirkan. Pada metaanalisis ini, yang dibandingkan adalah pemberian antibiotika sebelum dilakukan prosedur dan setelah pemotongan tali pusat.Pemberian antibiotika profilaksis pada cesarean delivery memiliki manfaat untuk mengurangi infeksi postoperatif dan endometritis merupakan komplikasi infeksi yang paling sering dijumpai.

- Infeksi saluran kemih sering dijumpai pada kehamilan dan penyebab utamanya adalah Escherichia coli. Infeksi saluran kemih terdiri dari 3 gambaran yaitu bakteriuria asimtomatik, sistitis akut, dan pielonefritis. Bakteriuria asimtomatik pada kehamilan yang tidak diterapi berkaitan dengan pertumbuhan intra-uterin yang terhambat dan bayi dengan berat lahir rendah. Menurut Committee Opinion dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sulfonamide dan nitrofurantoin mungkin diberikan sebagai lini pertama untuk infeksi saluran kemih selama kehamilan trimester kedua dan ketiga. Tetapi pada trimester pertama, sulfonamide dan nitrofurantoin mungkin diberikan bila tidak terdapat alternatif lain. Studi case control tahun 2009 dari the National Birth Defects Prevention Study menunjukkan bahwa nitrofurantoin dan sulfonamide berkaitan secara bermakna dengan banyak defek/kelainan saat lahir, sementara penicillin, erythromycin, cephalosporin, dan quinolone tidak. Namun, peneliti tersebut mencatat bahwa studi-studi lain tidak menemukan risiko defek saat lahir pada populasi lain atau ketika menggunakan metode epidemiologi lain. Peneliti juga menyampaikan bahwa antibiotik sebaiknya diberikan pada wanita hamil dengan indikasi yang tepat dan durasi sesingkat mungkin. Disampaikan pula bahwa banyak kultur urine menunjukkan kontaminan bakteri sehingga tidak merepresentasikan infeksi yang sesungguhnya. Namun, yang penting adalah para medis sebaiknya mempertimbangkan benefit serta potensi risiko teratogenesis dan efek samping pada ibu hamil.
Para peneliti menyatakan bahwa pemberian sulfonamide atau nitrofurantoin pada trimester pertama kehamilan masih dianggap sesuai bila tidak tersedia alternatif antibiotik lain yang sesuai. Perhatian disampaikan oleh para peneliti bahwa ibu hamil sebaiknya tidak ditunda pemberian antibiotiknya karena dapat mengakibatkan komplikasi yang serius pada ibu dan janin. Salah satu antibiotik golongan sulfonamide adalah sulfamethoxazole. Menurut guideline EAU 2010 untuk sistitis dan bakteriuria asimtomatik dalam kehamilan, antibiotik trimethoprim sebaiknya dihindari pemberiannya pada trimester pertama kehamilan dan sulfamethoxazole sebaiknya dihindari pada trimester ketiga kehamilan.
Jadi, sulfonamide dan nitrofurantoin mungkin diberikan pada trimester pertama kehamilan bila tidak terdapat antibiotik alternatif lain dan pada trimester kedua dan ketiga kehamilan sebagai lini pertama. Antibiotik sebaiknya diberikan pada infeksi saluran kemih selama kehamilan mengingat komplikasi infeksi saluran kemih pada ibu dan janin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar